Biodata Mh. Rustandi Kartakusuma, Sastrawan Indonesia

Biodata Mh. Rustandi Kartakusuma, Sastrawan Indonesia

Hai sobat biodata, kali ini kami akan bagikan biodata Mh Rustandi Kartakusuma seorang Sastrawan Indonesia. Penasaran ingin tahu tentang biodata Mh Rustandi Kartakusuma, simak penjelasannya berikut ini

Mh. Rustandi Kartakusuma

Mh. Rustandi Kartakusuma adalah seorang sastrawan asal Indonesia, beliau termasuk dalam kelompok Sastrawan Angkatan tahun 1945.

Sastrawan Angkatan 45, Mh Rustandi Kartakusuma yang akrab dipangil Uyus lahir pada tanggal 20 Juli 1921, di Ciamis, Jawa Barat. Ayahnya bernama Mas Kadarisman merupakan seorang pangrehpraja sedangkan ibunya bernama Siti Mardiam.

Bakat Rustandi mulai terlihat sewaktu mengenyam pendidikan sekolah dasar. Dia selalu mendapat nilai bagus untuk pelajaran mengarang.

Setelah selesai menempuh pendidikan di HIS pada tahun 1942, Rustandi kemudian melanjutkan pendidikannya ke bagian IPA.

Setamat HBS, ia lalu melanjutkan pendidikan ke sekolah Jepang, Koto Shihan Gakko (Sekolah Tinggi Guru) Bagian A (kesusastraan).

Karena keadaan darurat masa prakemerdekaan RI, sekolah yang seharusnya dijalaninya selama dua sampai tiga tahun, ternyata hanya ditempuhnya dalam waktu delapan bulan.

Dengan ijazah sekolah Jepang itu, Rustandi ditugaskan mengajar di Garut. Di kota itu beliau hanya bisa bertahan selama setahun.

Setelahitu, pekerjaan sebagai guru ditinggalkannya. Kemudian berangkatlah ia ke Jakarta untuk melanjutkan pendidikan ke Sekolah Tinggi Islam, yang kelak menjadi IAIN tetapi kuliahnya tidak berjalan dengan baik karena keadaan revolusi.

Rustandi berangkat ke Yogyakarta untuk meneruskan pendidikannya di Fakultas Sastra Filsafat Timur jurusan sastra, Universitas Gadjah Mada.

Selain itu, ia juga kuliah di Sekolah Tinggi Islam (STI) yang saat itu sudah pindah ke Yogyakarta. Sambil kuliah di kota Yogyakarta, Rustandi bekerja di Departemen Pertahanan, tempat Armijn Pane bekerja.

Baca Juga :  Biodata I Gusti Ketut Pudja

Ternyata bagi Rustandi, baik kuliah maupun bekerja, tidaklah memberikan kepuasan pada dirinya kemudian bangku perkuliahan ditinggalkannya karena mempunyai pandangan khusus tentang pendidikan. Menurutnya, pengalaman langsung dalam kehidupan masyarakat merupakan pendidikan yang paling tinggi.

Selanjutnya, Rustandi kembali ke kampung halamannya di Ciamis. Di kampung halamannya itu ia mulai menulis puisi.

Sebelumnya, Rustandi menulis naskah drama berjudul Perabu dan Puteri. Naskah itu pada masa perjuangan dipentaskan dengan judul “Indonesia Tanah Pusaka” dan pemainnya para pemuda pelajar masa itu yang tergabung dalam Tentara Pelajar.

Rustandi sangat mempercayai kebenaran ungkapan dalam bahasa Belanda yang berbunyi Levenself is de horgote school yang berarti ‘kehidupan adalah sekolah tertinggi’.

Baginya, minat yang besar terhadap lapangan kebudayaan, khususnya kesusastraan, seolah-olah tidak ada hubungannya dengan keadaannya yang tidak mempunyai pekerjaan tetap.

Majalah berbahasa Sunda, Mangle, pernah menjulukinya sebagai “kawah yang selamanya bergolak“. Kehidupannya hanya dihabiskan untuk menambah pengetahuan dan pengalaman yang berkaitan dengan minatnya.

Penguasaannya terhadap tujuh bahasa asing (Belanda, Inggris, Jerman, Perancis, Spanyol, Jepang, dan Malaysia) mempermudah perjalanannya berkeliling dunia.

Mh Rustandi Kartakusuma berpendapat bahwa kebudayaan dan kesenian Indonesia harus berorientasi pada kebudayaan milik sendiri dan harus kembali ke akar budaya pribadi sebagai bangsa Timur.

Dalam mengemukakan pendapat Mh. Rustandi dikenal sangat vokal.  Antara tahun 1950 hingga tahun1960, ia menjuluki kritikus Belanda sebagai nabi kulit putih.

Rustandi mengatakan bahwa perkembangan pengarang Indonesia sudah terpengaruh oleh bangsa Barat. Mungkin Mh. Rustandi orang pertama yang mengemukakan bahwa kesusastraan Indonesia terpisah dari masyarakatnya.

Menurutnya, para penulis Indonesia sudah tidak mau mengenali kebudayaan milik sendiri. Sehingga, karya sastra tidak dikenal oleh masyarakat.

Baca Juga :  Harga Emas Hari Ini Senin 24 Oktober 2022

Mh Rustandi Kartakusuma ini sampai akhir hayatnya tidak beristri. Pada masa tuanya, pada 13 November 1996, ia tinggal di Panti Jompo sebelum menumpang di rumah kakaknya M.M.R. Kartakusuma di Kebon Sayur, Jakarta.

Riwayat pekerjaan Mh. Rustandi Kartakusuma 

  • Guru Bahasa dan Sejarah Indonesia.
  • Pemimpin Utusan Kementerian Penerangan di Kepulauan Sunda Kecil (Bali dan Nusa Tenggara Barat).
  • Ketua Balai Penerangan Sunda Kecil (selama1 bulan)..
  • Pegawai Kementerian Pertahanan Bagian Penerangan.
  • Dosen Bahasa Indonesia di Yale University, Amerika Serikat, Program Post Graduate Studies (1951-1952)
  • Dosen Harvard University, kerja sama dengan Massachuset Institut Technology mengisi program Summer Course pada tahun 1952.
  • Delegasi pengarang Indonesia di Kongres PEN Club Dublin, Irlania.
  • Pembantu Atase Kebudayaan RI di Paris, Perancis tahun 1954 hingga tahun 1966.
  • Ketua Tim Juri Inti Sayembara Besar Mengarang Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dan Balai Pustaka (1965—1966)
  • Redaktur majalah Harmoni, koran Mandala, serta majalah berbahasa Sunda seperti Mangle, Nirmala, dan Gondewa.

Karya-karya sastra Mh. Rustandi Kartakusuma

  • Perabu dan Puteri, drama remaja tahun 1950, penerbit Balai Pustaka.
  • Rekaman dari Tudjuh Daerah, kumpulan puisi tahun 1951, Penerbit Balai Pustaka.
  • Heddie dan Tutie, drama remaja tahun 1951, Penerbit Pustaka Rakyat.
  • Ita dan Adiknya Is; cerita anak-anak tahun 1952, Penerbit Pustaka Rakyat.
  • Merah Semua Putih Semua, drama tahun 1958, diterbitkan Balai Pustaka tahun 1961.
  • Lagu Kian Mendjauh, skenario film tahun 1951, dalam majalah Indonesia.
  • Geisha, terjemahan drama karya Yamamoto Yuzo, Dewan Kesenian Jakarta.
  • Jang Mati Tak Bernama“, terjemahan drama karya J.P. Sartre, Dewan Kesenian Jakarta.
  • Mercedez 190, novel Sunda tahun 1970-an, diterbitkan kembali oleh Akadoma, Bandung tahun 1993.
Baca Juga :  Biodata Joseph Stefan Penemu Hubungan Antara Intensitas Dengan Suhu Benda yang Memancarkan Radiasi

Penghargaan

  • Satya Lencana Kebudayaan dari Presiden Megawati Soekarnoputri atas jasanya mengembangkan kesusastraan dan kebudayaan Sunda pada tahun 2004.
  • Hadiah Sastera Rancagé dari Yayasan Kebudayaan Rancagé untuk jasanya dalam pengembangan bahasa dan sastra Sunda pada tahun 1992 dan untuk karyanya kumpulan cerpen, Amanat dina Napas Panungtungan (Amanat dalam Nafas Terakhir) tahun 2005.

Wafat

Mh Rustandi Kartakusuma meninggal dunia di usia 87 tahun, pada Jumat 11 April 2008 pukul 06.15 WIB di Panti Jompo Ria Pembangunan, Cibubur.

 

Penutup

Itulah biodata Mh Rustandi Kartakusuma seorang Sastrawan Indonesia. Semoga bisa menambah pengetahuan dan bermanfaat bagi sobat biodata sekalian.

sumber : ensiklopedia.kemdikbud.go.id