Mohammad Diponegoro

Biodata Mohammad Diponegoro, Sastrawan Indonesia

Biodata Mohammad Diponegoro, Sastrawan Indonesia

Hai sobat biodata, kali ini kami akan bagikan biodata Mohammad Diponegoro seorang Sastrawan Indonesia. Penasaran ingin tahu tentang biodata Mohammad Diponegoro, simak penjelasannya berikut ini.

Mohammad Diponegoro

Mohammad Diponegoro adalah seorang sastrawan Indonesia, terutama yang bernafaskan Islam. Beliau lahir pada tanggal 28 Juni 1928 dan meninggal dunia pada 9 Mei 1982.

Beliau terkenal karena usahanya mempuitisasikan terjemahan Al-Qur’an. Karya-karya puitisasi terjemahan Al-Qur’an yang dibuat oleh Mohammad Diponegoro dimuat dalam majalah Gema Islam, Horison, Indonesia, Media, dan Suara Muhammadiyah.

Selain sebagai sastrawan dan wartawan,beliau juga pelukis batik, fotografer, dan sering menjadi juri deklamasi sajak, serta juri sayembara drama televisi dan radio.

Bahkan Mohammad Diponegoro juga menguasai beberapa alat musik, seperti piano, gitar, dan biola, serta pernah mencipta syair lagu.

Syair-syair lagu ciptaannya, antara lain Mars Aisyiyah (lagu oleh M. Irsyad) dan Bidan Prajurit Islam, sebuah gubahannya untuk siswa Sekolah Bidan P.K.U. (Pusat Kesejahteraan Umum) Muhammadiyah.

Namanya juga tercatat sebagai anggota B.K.K.I.I. (Badan Kongres Kebudayaan Islam Indonesia). Selain itu, Mohammad Diponegoro juga mengikuti beberapa kursus dan menguasai beberapa bahasa asing seperti Inggris, Arab, Jepang, dan Belanda . Mohammad Diponegoro juga pernah menjadi santri di Pondok Modern Gontor, Ponorogo.

Mohammad Diponegoro sudah aktif menulis sejak tahun lima puluhan. Beliau banyak menulis dan menyadur cerita pendek, drama, sajak, esai, dan terkenal karena usahanya mempuitisasikan terjemahan al-Qur’an.

Sumbangannya terhadap dunia kesusastraan Indonesia, terutama adalah cerpen-cerpen yang dihasilkannya. Selama hidupnya, tidak kurang dari lima ratus buah cerita pendek telah ditulisnya, baik asli, terjemahan, maupun saduran.

Karya-karyanya juga tersebar di berbagai majalah dan harian seperti Budaya, Budaya Jaya, Gajah Mada, Gema Islam, Horison, Indonesia, Kartini, Kisah, Kompas, Media, Minggu Pagi, Misykah, Moderna, Panji Masyarakat, Siasat, Suara Muhammadiyah, Suara Ummat, dan Tunas.

Baca Juga :  Hanya Dengan Bertani Pisang Pemuda Asal Lampung Raih Keuntungan 30 Juta Per Bulan

Mohammad Diponegoro tamat di HIS Muhammadiyah Yogyakarta pada tahun 1942, kemudian SMP Muhammadiyah Yogyakarta pada tahun 1954 dan SMA “B” Negeri Yogyakarta pada tahun 1950.

Setelah itu, Mohammad Diponegoro melanjutkan ke Fakultas Teknik Universitas Indonesia di Bandung, akantetapi hanya setahun. Selanjutnya atas anjuran dokter, beliau pindah ke Universitas Gadjah Mada, Fakultas H.E.S.P. jurusan Ekonomi.

Pada masa revolusi kemerdekaan,  Mohammad Diponegoro aktif dalam bidang kemiliteran. Sekitar April hingga bulan Juni 1945, beliau mengikuti latihan kemiliteran di Cibarusah, Bekasi, Jawa Barat.

Lalu, ia pernah menjadi opsir TRI (Tentara Rakyat Indonesia) dengan pangkat letnan dua, menjabat dalam Staf Resimen Ontowiryo (TNI Masyarakat), dan memegang pimpinan Komandan Seksi sampai pada tahun 1947.

Pada tahun 1951, Mohammad Diponegoro menjadi guru tidak tetap dalam mata pelajaran bahasa Indonesia di SMP Dinas Penyempurnaan Pengetahuan dan Keahlian Staf “A” Angkatan Darat di Bandung.

Kemudian pada tahun 1955, ia melawat ke Amerika Serikat dalam rangka penelitian tentang Youth Activities dan Youth Leaders Grant dari USIS.

Pada tahun 1959, ia bekerja di USIS sebagai wakil direktur Jefferson Library Yogyakarta. Kemudian, ia mengunjungi Jepang dan Filipina pada tahun 1964.

Di bidang jurnalistik, Mohammad Diponegoro pernah duduk dalam redaksi majalah Tunas, yang diterbitkan oleh PII (Pelajar Islam Indonesia) pada tahun 1947 hingga tahun 1950.

Kemudian dalam redaksi majalah Media, yang diterbitkan oleh HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) pada tahun 1955; dan juga redaksi majalah Misykah, yang diterbitkan oleh H.P.S.I. (Himpunan Peminat Sastra Islam) pada tahun 1960.

Pada bulan Juni 1965, ia duduk dalam redaksi majalah Suara Muhammadiyah, yang diterbitkan oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah Yogyakarta.

Baca Juga :  Harga Emas Hari Ini Sabtu 6 Agustus 2022

Pada tahun 1969, Ia kembali ke Universitas Gadjah Mada, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, jurusan Hubungan Internasional sampai tingkat III.

Lalu pada tahun 1975, Mohammad Diponegoro diangkat menjadi wakil pemimpin redaksi/wakil pemimpin umum majalah itu sebagai pengasuh ruang cerita pendek, sajak, rubrik opini, karikatur, dan pembaca menulis. Sebagai pengasuh rubrik “English Column”, Mohammad Diponegoro menggunakan nama samaran Ben Hashem.

Mohammad Diponegoro juga dikenal sebagai dramawan, baik sebagai penulis cerita, sutradara, dan kadang-kadang sebagai pemain. Sebagai penulis cerita, Mohammad Diponegoro menghasilkan sebuah karya asli berjudul Iblis, sebuah lakon drama yang ditulisnya pada tahun 1961. .

Di samping karya aslinya, ia pun menyadur dan menerjemahkan naskah-naskah drama asing, seperti Desire under the Elms (Eugene O’Neill), The Death of Odysseus (Lionel Abel), The Death Trap atau Jebakan Maut (Saki/H.H. Munro), Fortune Writes a Letter (Theodore Apstein), The Miracle of the Danube (Maxwell Anderson).

Selain itu, dua buah saduran dari karya Tennessee Williams, yaitu Labbaika, Ya Rabbi, Labbaika dan Surat Kepada Gubernur. Surat Kepada Gubernur disiarkan oleh TVRI pada tanggal 11 Mei 1982 dengan judul Surat dari Fatimah dan dimainkan oleh Teater Angka.

Dalam bidang penulisan sajak, beliau tidak begitu menonjol, sebab hanya beberapa sajak saja yang dihasilkannya, baik asli maupun terjemahan. Karya-karyanya dalam bentuk sajak dimuat dalam majalah Gajah Mada, Media, Panji Masyarakat, dan Siasat. Sebuah sajaknya yang berjudul “Balada Nyawa Saringan”.

Salah satu karya puitisasi terjemahan al-Qur’an juz 29 yang berjudul “Kalam”, dimuat kembali sebagai penutup dari serangkaian ceramah terpilih “Ramadhan in Campus” 1402 H/1982 M Jamaah Shalahuddin, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, dalam Mencari Generasi Qur’ani (Shalahuddin Press, 1982)

Baca Juga :  Biodata Phoebe Snetsinger, Pengamat Burung yang Telah Mencatat 8.398 Spesies Burung

Salah satu esainya yang berjudul “Sebuah Konsep Individualitas: Percobaan Memahami Cita Iqbal tentang Manusia” dibacakan dalam acara Peringatan Iqbal di Taman Ismail Marzuki pada tanggal 24 April 1972.

Esai itu kemudian dimuat dalam majalah Budaya Jaya, dan diterbitkan dalam Percik-percik Pemikiran Iqbal (Shalahuddin Press, Desember 1983) bersama karya Ahmad Syafii Maarif.

Selain itu, Esai lainnya yang berjudul “Muhammad Asad Duta Islam Masa Kini”, yang pernah dimuat dalam majalah Suara Muhammadiyah, diterbitkan kembali dalam Duta Islam untuk Dunia Modern (Shalahuddin Press, September 1983), juga bersama tulisan Ahmad Syafii Maarif.

Cerpen-cerpen yang dihasilkannya itu tidak hanya disebarkan melalui majalah dan harian, tetapi juga disiarkan melalui radio.

Sejak tahun 1969, Mohammad Diponegoro membuat rekaman cerita pendek untuk disiarkan pada Radio ABC Siaran Bahasa Indonesia, Melbourne, Australia, pada setiap hari Rabu malam.

Hal itu berlangsung tidak kurang dari sepuluh tahun lamanya. Selain itu, Mohammad Diponegoro juga membacakan cerpen-cerpennya dalam ruang cerita pendek di RRI Studio Nusantara II Yogyakarta, pada setiap Minggu pagi.

Penutup

 

Itulah biodata Mohammad Diponegoro seorang Sastrawan Indonesia. Semoga bisa menambah pengetahuan dan bermanfaat bagi sobat biodata sekalian.

sumber : id.wikipedia.org