Nasjah Djamin

Biodata Nasjah Djamin

Biodata Nasjah Djamin

Hai sobat biodata, kali ini kami akan bagikan biodata Nasjah Djamin. Penasaran ingin tahu tentang biodata Nasjah Djamin, simak penjelasannya berikut ini.

Nasjah Djamin

Noeralamsyah “Nasjah” Djamin atau yang mempunyai nama lahir Noeralamsyah merupakan seorang pengarang, pelukis, penulis naskah drama, dan ilustrator buku Indonesia.

Selain untuk berbagai buku fiksinya, Nasjah juga dikenal untuk berbagai lukisannya, yang dikoleksi pula oleh Presiden Soekarno.

Beliau juga merupakan salah satu pemrakarsa kelompok lukis Angkatan Seni Rupa Indonesia (ASRI) di Medan dan Gabungan Pelukis Indonesia di Jakarta.

Nasjah Djamin lahir di Perbaungan, Sumatra Utara, pada tanggal 24 September 1924 dan meninggal dunia pada tanggal 4 September 1997, tepatnya pada hari Kamis pukul 12.30 pada usia 73 tahun. Beliau dimakamkan di Girisapto, Imogiri, Yogyakarta

Nasjah merupakan anak ketujuh dari delapan bersaudara. Kedua orang tuanya berasal dari Minangkabau, Sumatra Barat.

Ayahnya bernama Haji Djamin, dan ibunya bernama Siti Sini. Selama hidupnya, Nasjah Djamin menetap di Yogyakarta bersama istrinya, Umi Naftiah yang dinikahinya pada tahun 1967 dan anak-anaknya, yaitu Mega Purnama, Ayu Pusparini, Lai latifah, dan Yeni Meinita.

Pendidikan Nasjah hanya sampai di tingkat MULO (sekarang SMP) pada zaman Belanda di Medan. Nasjah Djamin dan keluarganya saat itu tinggal di Medan.

Pendidikannya terhenti saat Jepang menjajah Indonesia. Kondisi saat itu tidak memungkinkan Nasjah Djamin untuk melanjutkan sekolahnya.

Karena tidak bersekolah lagi, ia kemudian bekerja. Dalam kondisi yang kacau, ia mengikuti sayembara poster perang dengan semboyan “Asia untuk Asia” yang diadakan penjajah Jepang.

Nasjah Djamin meraih hadiah pertama dengan imbalan satu karung beras, satu bal bahan celana, sebuah topi vilt, berikut piala dan piagam.

Baca Juga :  Ragam Twibbon Hari Pustakawan Nasional ke-32 Tahun 2022

Kemenangan tersebut merupakan jalan bagi Nasjah Djamin untuk bekerja di kantor Bunka-ka di bagian Senden-bu sebagai tukang gambar, pelukis poster, dan pembuat komik.

Kemudian, pada tahun 1946 ia masuk sanggar Seniman Indonesia Muda (SIM). Di tahun itu juga, Nasjah turut membidani kelahiran perkumpulan pelukis di Medan yang bernama “Angkatan Seni Rupa Indonesia”.

Selain itu, Nasjah juga membidani lahirnya “Gabungan Pelukis Indonesia di Jakarta” pada tahun 1949. Di Medan pula untuk pertama kalinya, beliau menggelar karya lukisnya pada Pameran Seni Lukis Indonesia.

Kariernya di bidang seni lukis semakin mantap setelah ia mempelajari art & setting untuk pentas, film, dan televisi di Tokyo, Jepang pada tahun 1960 hingga tahun 1965.

Nasjah kemudian berangkat ke Jawa bersama Sam Suharto (mantan wartawan Indonesia Raya) dan Daoed Joesoef (mantan Mendikbud). Sesampainya di Jakarta, Nasjah kemudian bekerja sebagai ilustrator buku di Balai Pustaka dan sempat berkenalan dengan para redaktur dan sastrawan.

Beliau bekerja bersama Wakijan dengan bimbingan pelukis Baharudin M.S. Selain itu, Nasjah juga berkenalan dengan H.B.Jassin dan Sitor Situmorang.

Pergaulannya itu menjadikan Nasjah mengenal dunia sastra dan untuk selanjutnya berhasil menjadikan Nasjah sebagai salah satu sastrawan besar Indonesia. Nasjah berhasil menulis cerita anak Si Pai Bengal dan Hang Tuah yang diterbitkan oleh Balai Pustaka pada tahun 1952.

Tetapi, perjalanan Nasjah Djamin tidak berhenti di Jakarta. Dia bersama teman-temannya melanjutkan perjalanan ke Yogyakarta.

Di kota Yogyakarta inilah Nasjah bertemu dengan dedengkot seni rupa, S. Sudjojono, Affandi, dan Hendra. Beliau kemudian bergabung dengan seniman-seniman lain yang di kemudian hari dikenal sebagai “seniman Malioboro”.

Kreativitasnya dalam bidang sastra mulai berkembang pada tahun 1955 saat ia bekerja di Kantor Bagian Kesenian Departemen P dan K di Yogyakarta (1952—1980).

Baca Juga :  Berbagai Jenis Pepaya Favorit di Indonesia

Ketika itu ia juga menjadi anggota redaksi majalah Budaya (1953–1962) yang merupakan satu-satunya majalah kebudayaan umum (di luar Basis) yang terbit di Yogyakarta.

Karya-karya Nasjah Djamin sebagian besar pertama-tama dimuat di majalah Minggu Pagi seperti novel Hilanglah si Anak Hilang dan Gairah untuk Hidup dan untuk Mati. Kumpulan cerita pendeknya Di Bawah Kaki Pak Dirman juga pernah dipublikasikan di majalah ini.

Kumpulan cerita pendeknya, antara lain adalah Di Bawah Kaki Pak Dirman (1967), Sebuah Perkawinan (1974). Karya Novelnya, antara lain adalah Hilanglah si Anak Hilang (1963), diterjemahkan ke dalam bahasa Perancis menjadi Le Depart de (‘Enfant Pradigue,1975), Helai-Helai Sakura Gugur (1964), Malam Kuala Lumpur (1968), Gairah untuk Hidup dan untuk Mati , Yang Ketemu di Jalan (1981), Dan Senja pun Turun (1982), Ombak Parangtritis (1983), Tresna Atas Tresna (1983), Bukit Harapan (1984)Tiga Puntung Rokok (1985), Ombak dan Pasir (1988); dan Ibu (1988).

Ia juga menulis sebuah biografi Hari-Hari Akhir si Penyair (1982) tentang Chairil Anwar. Beberapa ahli menyatakan bahwa karya-karya Nasjah Djamin beraliran eksistensialisme.

Penghargaan

  • Titik-titik Hitam (1956), naskah drama, Hadiah Sastra Nasional BMKN (1957/1958)
  • Sekelumit Nyanyian Sunda (1958), naskah drama, Hadiah Ketiga Sayembara Penulisan Drama Bagian Kesenian Departemen P dan K, 1958
  • Gairah untuk Hidup dan untuk Mati (1968), novel, Anugerah Seni dari Pemerintah Republik Indonesia, 1970
  • Ombak Parangtritis (1983), novel, Hadiah Yayasan Buku Utama Departemen P dan K, 1983
  • Bukit Harapan (1984), novel, Sayembara Mengarang Roman Dewan Kesenian Jakarta, 1980

 

Penutup

Itulah biodata Nasjah Djamin. Semoga bisa menambah pengetahuan dan bermanfaat bagi sobat biodata sekalian.

Sumber : id.wikipedia.org