Biodata Raden Aria Wangsakara

Biodata Raden Aria Wangsakara

Hai sobat biodata, kali ini kami akan bagikan biodata Raden Aria Wangsakara. Penasaran ingin tahu tentang biodata Raden Aria Wangsakara, simak penjelasannya berikut ini.

Raden Aria Wangsakara

Raden Aria Wangsakara adalah seorang ulama, pejuang, dan pendiri Tangerang.Raden Aria Wangsakara lahir di Sumedang pada tahun 1615. Aria Wangsangkara juga dikenal sebagai ulama penyebar agama Islam.

Dalam sejumlah literatur yang bercerita tentang Babad Tangerang dan Babad Banten, Wangsakara merupakan keturunan Raja Sumedang Larang, Sultan Syarif Abdulrohman.

Bersama dua kerabatnya, yakni Aria Santika dan Aria Yuda Negara, Wangsakara lari ke Tangerang karena tidak setuju dengan saudara kandungnya yang malah berpihak kepada VOC.

Aria Wangsakara bukan hanya tokoh keagamaan dalam Kesultanan Banten pada masanya, tetapi juga tokoh politik dan pemimpin militer yang terus berjuang dalam semangat untuk mengusir penjajah.

Melalui latar belakang perjuangannya tersebut semasa Kesultanan Banten semasa Sultan Abul Mufakhir dan Sultan Ageng Tirtayasa, Wangsakara menegaskan perannya sebagai sosok yang turut memainkan peranan penting dalam melawan penjajah (VOC).

Pada tahun 1636, Wangsakara diutus Sultan naik haji. Di Mekah, Wangsakara berhasil memperoleh surat pengakuan Banten oleh Syarif Mekah sebagai kepanjangan tangan dari otoritas politik Turki Utsmani (Ottoman).

Sepulangnya ke Banten, Wangsakara diberi gelar Kiai Mas Haji Wasangraja.

Pertempuran Aria Wangsakara bersama rakyat Tangerang melawan VOC

Dalam beberapa literatur Sejarah Kabupaten Tangerang disebutkan, Aria Wangsakara pergi dari Sumedang ke Tangerang bersama dua saudaranya, masing-masing Aria Santika dan Aria Yuda Negara.

Ketiga tumenggung dari Sumedang ini, kemudian mendapatkan restu dari Sultan Banten di bawah kepemimpinan Sultan Maulana Yusuf untuk bertugas menjaga wilayah dari tindakan kompeni dengan membangun benteng di Lengkong Kyai yang terletak di tepi Sungai Cisadane sebelah barat sampai bendungan Sangego.

Baca Juga :  Biodata Fatmawati, Istri Presiden Indonesia Pertama

Di Lengkong Kyai, Aria Wangsakara menetap bersama isterinya, Nyi Mas Nurmala, seorang anak dalem Bupati Karawang Singaprabangsa. Di tempat ini pula bermukim pengikutnya yang berjumlah sekira 500 orang.

Pada tahun 1652 sampai tahun 1653 M, Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) yang sudah mencium aktivitas penyebaran agama di Lengkong Kyai ini, kemudian mendirikan benteng di sebelah timur Sungai Cisadane yang persis berseberangan dengan wilayah kekuasaan Aria Wangsakara.

VOC juga memprovokasi dan menakuti warga Lengkong Kyai dengan mengarahkan tembakan meriam yang diarahkan ke Lengkong Kyai.

Sikap Kompeni ini menimbulkan pertempuran antara Kompeni Belanda dengan rakyat Tangerang di bawah kepemimpinan Aria Wangsakara.

Peristiwa ini kelak akan disebut sebagai titik awal tumbuhnya jiwa patriotik rakyat Tangerang di bawah kepemimpinan Aria Wangsakara.

Lewat kegigihan dan jiwa kepahlawanan kolektif, warga Lengkong akhirnya berhasil mempertahankan wilayahnya ini melalui pertempuran yang berkobar selama tujuh bulan berturut-turut.

Pada tahun 1654 sewaktu terjadi peperangan di Batavia antara Kesultanan Banten dengan VOC, Raden Aria Wangsakara mewakili Kesultanan Banten sebagai juru runding yang membuahkan kesepakatan penghentian perang. Daerah yang dikuasai masing-masing tetap dipertahankan.

Pada tahun 1658 sampai tahun1659 ketika terjadi peperangan, Raden Aria Wangsakara mendapat mandat dari Sultan Ageng Tirtayasa untuk memimpin perang melawan VOC yang berujung pada perjanjian damai pada tanggal 5 Juli 1659.

Setelah perang, Beliau mengubah strategi pertahanan dengan membuat permukiman dan kanal sehingga menjangkau daerah Tangerang pedalaman.

Kematian

Raden Aria Wangsakara wafat pada tahun 1720 di Ciledug dan dimakamkan di Lengkong, Pagedangan, Tangerang atau Taman Makam Pahlawan Kabupaten Tangerang.

Pada tahun  2021, beliau diangkat menjadi Pahlawan Nasional Indonesia bersama dengan Tombolotutu,Aji Muhammad Idris, dan Usmar Ismail oleh Presiden Indonesia Joko Widodo.

Baca Juga :  Soal UP PGSD Pedagogik dan Karakteristik Pembelajaran Abad 21

Penutup

Itulah biodata Raden Aria Wangsakara. Semoga bisa menambah pengetahuan dan bermanfaat bagi sobat biodata sekalian.

sumber : berbagai sumber