Rangkuman Modul Mengenali dan Memahami Diri Sebagai Pendidik
Rangkuman Modul Mengenali dan Memahami Diri Sebagai Pendidik

Rangkuman Modul Mengenali dan Memahami Diri Sebagai Pendidik

Rangkuman Modul Mengenali dan Memahami Diri Sebagai Pendidik – Halo rekan-rekan guru, kali ini kami akan membagikan rangkuman materi yang terdapat dalam modul topik pelatihan mandiri pada platform PMM. Materi ini adalah Rangkuman Modul Mengenali dan Memahami Diri Sebagai Pendidik yang terdapat pada topik Merdeka Belajar. Mari simak rangkuman materi lebih lengkapnya berikut ini.

Rangkuman Modul Mengenali dan Memahami Diri Sebagai Pendidik

Rangkuman Modul Mengenali dan Memahami Diri Sebagai Pendidik

A. Mengenali Diri dan Perannya Sebagai Pendidik

Hai rekan-rekan guru modul Merdeka belajar ini kita akan bersama-sama melakukan refleksi mengenali diri untuk lebih memahami peran sebagai pendidik berdasarkan pemikiran Ki Hajar Dewantara. Menurut Ki Hajar Dewantara manusia merdeka adalah manusia yang hidupnya bersandar pada kekuatan sendiri baik lahir maupun batin tidak tergantung pada orang lain.

Jika kita mengharapkan murid-murid kita kelak menjadi pribadi yang mandiri dan Merdeka tentunya penting untuk mereka mengenali diri, berdaya untuk menentukan tujuan dan kebutuhan belajarnya yang relevan dan kontekstual terhadap diri dan lingkungannya sebagaimana disampaikan oleh Ki Hajar Dewantara dalam dasar-dasar pendidikan.

Maksud pendidikan itu adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat. salah satu langkah awal kita sebagai pendidik adalah bagaimana memaknai dan menghayati pribadi kita sebagai manusia yang merdeka untuk terus belajar.

Murid-murid kini memiliki cara belajar yang sungguh berbeda dengan murid dahulu. Mereka sangat fasih dalam menggunakan teknologi, menjadikan internet sebagai salah satu sumber belajar utama. Mereka bisa dengan cepat mencari dan mengkonfirmasi pengetahuan dengan teknologi dalam genggaman. Mereka bisa menjangkau pengetahuan sekalipun tanpa kita beri. Lantas, apa yang perlu Bapak Ibu guru selaraskan agar bisa menjadi pendidik yang relevan dengan konteks?

Baca Juga :  Jawaban Topik Asesmen SD/Paket A Modul 1-3 Lengkap

Murid-murid masa kini memang sudah jauh berbeda dengan kita, namun mereka tetap butuh kehadiran sosok pendidik. Ki Hajar Dewantara pernah menyampaikan pendidik itu menuntun tumbuh dan hidupnya kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar dapat memperbaiki lakunya hidup dan tumbuhnya kekuatan kodrat anak.

B. Apa Peran Saya Sebagai Guru

Ki Hajar Dewantara menyamakan mendidik anak dengan mendidik rakyat. Menurut Ki Hajar Dewantara kehidupan saat ini adalah buah dari pendidikan yang diterima saat masih anak-anak.

Mengingat bahwa murid-murid akan menjadi masyarakat masa depan, maka sebagai guru perlu memahami apa yang bisa dilakukan untuk menghantarkan mereka menuju mimpi dan cita-cita mereka.

Ketika guru menyadari banyak murid-murid dengan beragam impian, potensi, dan kebutuhan di kelas, maka selanjutnya guru akan dapat menyesuaikan peran untuk menuntun perjalanan belajar mereka, hingga pada akhirnya murid menemukan siapa diri mereka.

Peranan seorang pendidik sangat besar. Hal apapun yang dilakukan di kelas mulai dari memfasilitasi proses belajar, metode kerja kelompok atau hal sekecil ucapan, termasuk pujian maupun cemoohan yang tidak sengaja terucap akan meninggalkan makna bagi murid-murid yang kelak akan menjadi bagian dari masyarakat.

Sudah sepatutnya, mulai dari merancang, memfasilitasi hingga menilai proses pembelajaran, guru harus hadir secara utuh terhadap setiap hal kecil yang disampaikan di kelas. Hal tersebut akan berkontribusi pada kecakapan hidup anak saat dewasa.

Semua yang Ibu dan Bapak guru rancang untuk disimak murid-murid harus memiliki tujuan sebab saat mengajar di dalam kelas, ibu dan bapak guru sebenarnya sedang membentuk masyarakat, membentuk budaya masa depan lewat murid-murid.

C. Ingin Menjadi Guru Seperti Apa Saya

Untuk menjadi guru seperti apa, Langkah pertama yang dapat dilakukan adalah memutar ingatan kembali ke masa lalu, mengingat pengalaman menyenangkan apa yang kita miliki terkait sosok guru saat masa sekolah dulu.

Baca Juga :  Jawaban Topik 9 Modul 4 Praktik Refleksi

Mengingat siapa-siapa saja guru yang kita senangi dahulu dan mengapa kita menyukainya. Apakah ada sosok guru saat sekolah yang pernah memberi nasehat yang hingga saat ini kita ingat? Misalnya terdapat sosok guru yang dikagumi selalu bertutur kata lembut, guru yang selalu menyimak pendapat kita atau guru yang selalu menyemangati kita.

Apakah ada momen yang menjadi titik balik misalnya, ada guru yang memberi tugas lalu membuat ibu dan bapak guru menemukan kemampuan tersembunyi dalam diri? Selanjutnya, apakah ada sosok guru yang memberikan pengalaman belajar yang menyenangkan dan membuat kita ingat hingga saat ini?

Selain mengingat pengalaman yang menyenangkan, kita juga bisa mengingat pengalaman yang tidak menyenangkan dengan sosok guru saat kita sekolah dulu. Apakah kita pernah merasa takut atau terintimidasi dengan sosok guru yang galak? Apakah kita pernah merasa dipermalukan oleh seorang guru?

Setelah mengingat pengalaman yang menyenangkan dan kurang mengenakkan dengan sosok guru, dapat kita refleksikan kepada diri kita sendiri terhadap keputusan kita saat memilih untuk menjadi seorang guru. Apakah ingin menjadi guru yang bisa menularkan energi positif pada murid-murid? Apakah ingin menjadi guru yang membuat murid terus tertarik untuk belajar dan membekalinya dengan kemampuan untuk terus belajar hingga akhir hayat selamat dan bahagia serta siap hidup dan mengisi zamannya?

Dengan profesi guru saat ini, Ibu dan bapak guru saat ini dapat menilai apakah cara mengajar Ibu dan Bapak guru sudah tepat atau belum. Sebagai contoh, ketika kita ingin murid menjadi pribadi yang berkolaborasi, apakah bentuk pembelajaran dikelas sudah membantu belajar untuk saling berkolaborasi atau malah cenderung berkompetisi?

Ketika kita ingin murid menjadi pribadi yang bisa belajar secara mandiri, sudahkah kita membekali mereka dengan kemampuan mencari sumber belajar yang kredibel atau malah hanya menyuapi mereka dengan materi yang sudah tersedia di buku?

Baca Juga :  Kunci Jawaban IPA Halaman 223 Kelas 9

Ketika kita ingin murid menjadi pribadi yang memiliki empati, sudahkah kita berempati dengan murid-murid kita?

Ketika kita ingin murid menjadi selamat dan Bahagia, sudahkah kita menciptakan suasana belajar yang selamat dan Bahagia?

Sebagai guru professional, seorang guru harus menentukan pilihan untuk menjadi sosok yang seperti apa di mata para murid. Berdasarkan pertanyaan-pertanyaan refleksi di atas, dapat disimpulkan bahwa seorang guru haruslah menjadi sosok yang dikagumi oleh muridnya. Seorang guru haruslah menyenangkan, memahami kebutuhan dan kemampuan muridnya dengan baik, mampu memberikan perhatian secara maksimal terhadap murid, serta dapat beradaptasi dengan perubahan zaman.

Guru yang seperti itu adalah guru yang mampu menjalankan konsep pendidikan Ki Hajar Dewantara, yakni guru yang mampu memberikan daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti yaitu kekuatan batin dan karakter, pikiran atau intelek, dan tumbuh kembang anak. Tidak hanya materi yang diajarkan, namun juga tingkah laku, tutur kata dan cara guru mengajar akan membekas dan membentuk karakter murid-murid.