Biodata Sultan Thaha Syaifuddin, Pahlawan Nasional dari Jambi

Biodata Sultan Thaha Syaifuddin, Pahlawan Nasional dari Jambi

Hai sobat biodata, kali ini kami akan bagikan biodata Sultan Thaha Syaifuddin seorang Pahlawan Nasional dari Jambi. Penasaran ingin tahu tentang biodata Sultan Thaha Syaifuddin, simak penjelasannya berikut ini.

Sultan Thaha Syaifuddin

Sultan Thaha Syaifuddin adalah pahlawan nasional asal Jambi yang dilahirkan pada pertengahan tahun 1816 di Keraton Tanah Pilih Jambi.

Beliau dilahirkan di Keraton Tanah Pilih, Kampung Gedang, Jambi pada pertengahan tahun 1816. Ketika kecil, beliau biasa dipanggil dengan nama Raden Thaha Ningrat.

Ayahnya Sultan Muhamad Fakhruddin dikenal rakyat Jambi sebagai Sultan yang saleh dan besar jasanya terhadap pengembangan agama Islam di Jambi.

Meskipun dia terlahir dari kalangan bangsawan,Sultan Thaha Syaifuddin memiliki sikap yang rendah hati, senang bergaul dengan masyarakat dan sangat membenci Belanda. Aktivitas melawan Belanda makin gencar sejak ia naik tahta menjadi Raja Jambi pada tahun 1855.

Usahanya melawan Belanda dilakukan dengan mengalang kekuatan masyarakat dan berkerjasama dengan raja Sisingamangaraja.

Pada tahun 1841 dia diangkat sebagai Pangeran Ratu (semacam perdana menteri) di bawah pemerintahan Sultan Abdurrahman.

Kala itu, ia memperlihatkan sikap menentang Belanda. Saat  sebuah kapal dagang Amerika berlabuh di pelabuhan Jambi, Sultan Thaha berusaha mengadakan kerja sama dengan pihak Amerika.

Sultan Thaha Syaifuddin tidak mengakui perjanjian yang dibuat oleh sultan-sultan terdahulu dengan Belanda. Salah satu diantaranya perjanjian tahun 1833 yang menyatakan Jambi adalah milik Belanda dan dipinjamkan kepada Sultan Jambi.

Belanda mengancam akan memecatnya, akibatnya hubungannya dengan Belanda tegang. Karena sudah memperkirakan Belanda pasti akan menggunakan kekuatan senjata, maka Sultan Thaha pun memperkuat pertahanan Jambi.

Belanda mengirim Residen Palembang untuk berunding dengan Sultan Thaha. Perundingan itu gagal. Sesudah itu, Belanda menyampaikan ultimatum agar Sultan Thaha menyerahkan diri.

Baca Juga :  Bonsai Cucur Atap Juara dari Rawa Istimewa

Karena Sultan Thaha menolak ultimatum, pada tanggal 25 September 1858 Belanda melancarkan serangan. Pertempuran terjadi di Muara Kumpeh.

Pasukan Jambi berhasil menenggelamkan sebuah kapal perang Belanda, namun mereka tidak mampu mempertahankan kraton. Sultan Thaha menyingkir ke Muara Tembesi dan membangun pertahanan di tempat ini.

Perang utama sudah berakhir, tetapi perlawanan rakyat berlangsung puluhan tahun lamanya. Sultan Thaha membeli senjata dari pedagang-pedagang Inggris melalui Kuala Tungkal, Siak dan Indragiri.

Rakyat dianjurkan agar tetap mengadakan perlawanan. Pada tahun 1885 mereka menyerang sebuah benteng Belanda dalam kota Jambi, sedangkan pos militer Belanda di Muara Sabak mereka hancurkan. Oleh sebab itu, Belanda meningkatkan operasi militernya.

Pasukan bantuan dalam jumlah besar didatangkan dari Jawa. Belanda mendatangkan pasukan dari Magelang lewat Semarang dan Palembang.

Pada tanggal 31 luli 1901 pasukan Belanda yang datang mendapatkan perlawanan sengit di Surolangun. Namun, pasukan Belanda terus mengadakan pengejaran sampai ke pedalaman. Mereka berhasil menawan pasukan dan pengikut Sultan Thaha.

Akhir Hayat

Pada tahun 1904, Belanda melakukan penyerbuan dan berhasil menyergap pasukan Sultan Thaha di dusun Betung Berdarah.

Dalam penyerbuan itu, Sultan Thaha wafat dalam usia ke 88. Jasadnya dimakamkan
di Muara Tebo yang kini dijadikan sebagai Makam Pahlawan Nasional Sultan Thaha Syaifuddin.

Thaha Sjaifuddin diangkat menjadi Pahlawan Nasional pada 24 Oktober 1977 dengan Keppres No. 79/TK/1977. Namanya diabadikan sebagai nama bandara di Jambi.

Penutup

Itulah biodata Sultan Thaha Syaifuddin seorang Pahlawan Nasional dari Jambi. Semoga bisa menambah pengetahuan dan bermanfaat bagi sobat biodata sekalian.

sumber : wikipedia.org